Monday, December 10, 2007

Karebosi yang malang

Saya ingat sewaktu kecil dulu masih duduk di bangku kelas 5 SD, malam itu saya dan beberapa teman sepermainan bermaksud jalan-jalan bersepeda ke karebosi, kebetulan rumah saya di tinumbu tidak begitu jauh dari karebosi, kebetulan juga hari itu ada acara pameran disana, kami ada berempat dengan mengendarai dua sepeda berboncengan, saya waktu itu dibonceng dan berdiri dibelakang sepeda.

Tak terasa kamipun tiba dikarebosi, kami berempat mengelilingi lapangan karebosi dengan bersepeda, salah seorang temanku yang memang orangnya suka iseng dan jahil tiba tiba teriak ” bencong lappasa ri karebosi ” sontak saya kaget dan takut karena temanku teriak pas di dekat kerumunan laki-laki berpakaian mini, dan sialnya waktu itu sepedaku berada di paling belakang dengan sekencang-kencangnya temanku mendayung sepedanya tapi apa daya, kekuatan asli sang bencong keluar dan mendapati kami sayapun mendapat satu tepukan di pundakku, dalam hatiku “ edede sanna tong carana ammanji inie benconga “ setelah itu kami mendayung sepeda sekencang-kencangnya kembali kerumah.

Itu adalah pengalaman pertama saya di karebosi menegangkan sekaligus lucu, setelah itu banyak pengalaman yang terukir dikarebosi sewaktu SMA kebetulan pula sekolah saya dekat dengan karebosi jadi kalau waktu olahraga pasti karebosilah jadi lapangan olahraga kami, pengalaman terakhir minggu lalu, tapi saya kali ini saya cuman bisa melihat karebosi dari jauh, sore itu saya berada di MTC sepulang dari MTC saya menuruni Lift, dari atas nampak Karebosi sementara terkoyak oleh puluhan “gajah besi” yang mengeruk dengan seenaknya tanah yang menjadi kebanggaan kota daeng, sedih juga melihatnya.

Revitalisasi, itu kata yang paling populer akhir-akhir ini, memang kalo melihat gambarnya orang akan tergagum-gagum dengan kemegahan karebosi nantinya dengan segala kelengkapan fasilitas yang dimilikinya karebosi akan nampak lebih gagah dan menawan, namun sayang beribu sayang, kemegahan tersebut ternoda dengan hadirnya mall di bawah karebosi, ini yang sampai sekarang belum masuk di alam pikirku.

Melihat keadaan riil selama ini memang karebosi terlihat kurang terawat, adanya kapling sebagian pihak yang membuat karebosi terkapling-kapling juga kurang nyaman terasa, belum lagi genangan air dimusim hujan sangat menggangu masyarakat pengguna lapangan, sudah tepat langkah pemkot untuk melakukan revitalisasi, yang salah adalah dari sudut komersialisasinya yang tentunya akan menguntungkan segelintir pihak saja dan yang jelas nilai historis dari karebosi sebagai nilai sejarah yang amat tinggi akan tergantikan dengan sesuatu yang belum jelas nilainya. Karebosi tidak akan ternilai harganya, karena karebosi bukan barang dagangan, karebosi bukan komoditi yang perlu dilakukan tawar menawar, jadi bagaimanami ?

No comments: